Editorial, hikmah, islam

Dari Masjid, Kita Bangkit!

the issue

Sepenggal catatan Milad HAMMAS Masjid Sirothol Mustaqim Ansan  (the sister mosque of Jogokariyan in Korea) bersama Ustadz @SalimAFillah

“ Kami adalah bangsa yang dibangkitkan Allah untuk membebaskan manusia dari penghambaan dari kepada sesama makhluk menuju menyembah sang Khaliq, membebaskan manusia dari kedzaliman agama-agama menuju keadilan Islam, membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akherat “

Continue reading

Advertisements
Standard
hikmah, inspirasi, Uncategorized

Tafakur Akhir Tahun, Sejenak untuk (kembali) Bergerak

Sudah 31 Desember lagi, sudah tahun baru lagi. Mungkin masih terngiang di dalam memori kita saat-saat akhir tahun yang lalu, ketika kita ketik kan kata demi kata dalam sebuah tulisan sederhana bertuliskan harapan dan target kebaikan-kebaikan kita di tahun 2015 ini. Tapi tak disangka kita sekarang sudah melihat  matahari di hari terakhir tahun ini. Benar kata pepatah arab bahwa waktu adalah pedang yang setiap saat bisa menebas leher orang-orang yang menyia-nyiakannya. Jelas dalam pepatah ini waktu diibaratkan sebuah benda yang bisa melesat cepat meninggalkan yang hanya berdiam, ia juga tajam siap menindas apapun yang hanya berpangku tangan.

alone-with-god

Berbicara mengenai waktu, dalam Islam ada prinsip yang sangat sederhana. Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia tergolong beruntung, barangsiapa yang sama kondisinya dari hari ke hari ia merugi, dan paling parah yang justru ia lebih buruk, inilah golongan yang celaka. Sudah tersurat dengan jelas, prinsip ini berusaha untuk menjaga kita agar senantiasa melakukan perbaikan dari setiap waktunya, atau pun kalau kita zoom in ke dimensi yang lebih kecil, perbaikan dari setiap jam ke jam berikutnya, menit ke menit, dan detik demi detik. Seorang muslim adalah seorang yang sadar akan pentingnya memanfaatkan waktu  untuk melakukan perbaikan. Ia sadar betul jika setiap saat ia bisa dipanggil oleh sang pemilik kehidupan, jadi ia selalu berusaha untuk melakukan perbaikan disetiap waktunya. Jangan sampai saat ia meninggal, ia dalam kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya. Kalau kita hayati lagi, cukup simple konsep ini, hanya berbuat lebih baik dari sebelumnya kita sudah menjadi orang yang beruntung. Namun secara pengamalan akan sulit kalau kita tidak konsisten dalam menjaganya.

Cara terbaik untuk melihat apakah kita masuk dalam kategorisasi yang beruntung, merugi, atau pun celaka itu cukup gampang yakni dengan tafakur diri di setiap waktunya. Sederhananya mungkin kita ada waktu khusus sejenak dalam setiap harinya untuk mengurai apa yang kita kerjakan dalam setiap harinya. Apa kebaikan yang sudah kita lakukan, pun dengan keburukan dan kelalaian kita. Dari sinilah kemudian kita bisa tahu progress yang telah kita lakukan, apakah menghasilkan progress yang naik dari sisi kebaikannya ataukah justru menurun.  Boleh kita mulai dengan menganalisis amalan yaumi kita, tentang sholat fardhu kita, sholat sunnah kita, tilawah kita, sedekah kita hingga apakah kita sudah memberikan kemanfaatan untuk orang lain di hari itu. Perlu juga kita renungkan apa saja kekhilafan yang telah kita lakukan di hari itu, mungkin kita telah berkata kotor, mengumpat, menyakiti teman atau keluarga kita atau kita pernah berbohong atau bermaksiat sekalipun. Dari sinilah kemudian kita bisa mengetahui apakah kebaikan kita lebih banyak ketimbang keburukan kita, atau justru ada ketimpangan sebaliknya. Tentunya kita bisa menginstropeksi diri untuk hari selanjutnya, agar kita makin baik timbangan kebaikan kita. Sembari kita beristighfar untuk memohon ampun kepada Allah atas segala khilaf dan kesalahan kita hari itu, karena boleh jadi sepanjang hari kita sama sekali beristighfar kepadaNya. Padahal kalau kita menilik seorang Rasulullah yang notabene sudah di jaga dari dosa, beliapun selalu beristighfar dalam setiap harinya, tak hanya sekali saja, namun lebih dari seratus kali.

Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah sebuah ayat sudah dijelaskan bahwa kita sebagai hambaNya diperintahkan untuk bertakwa  kepada Allah dan introspeksi diri (muhasabah). Karena dengan muhasabah, maka jiwa akan menjadi istiqamah, sempurna dan bahagia. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

(QS. Al-Hasyr: 18)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

“Firman Allah, وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ , maksudnya introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikan amalan sholeh yang telah kalian persiapkan untuk hari kemudian dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.”

Konsep tafakur diri setiap harinya ini alangkah lebih baik juga kita implementasikan dalam setiap akhir tahun. Kita bisa menginstropeksi pencapaian kita dalam sepanjang tahun ini, apakah kita sudah menjadi hambaNya yang bertaqwa, meskipun kita tahu semua penilaian tentang ibadah kita adalah hak prerogative Allah SWT tapi dengan kita mentafakuri diri seperti ini setidaknya kita bisa memetakan apakah kita sudah mengarah menuju perbaikan diri atau justru kebalikannya. Termasuk dengan pencapaian target-target aktivitas keduniaan kita. Kalau kita sudah baik, kita harus termotivasi untuk meningkat lebih baik lagi. Kalau kita belum baik kita harus memperbaiki celah-celah dan kekurangan kita untuk bisa lebih baik kedepannya.

Kita bisa meluangkan mungkin di hari terakhir setiap tahunnya untuk merenungi diri tentang apa yang telah dikerjakan selama ini. Di malam tahun baru memang tidak ada anjuran khusus untuk melakukan suatu hal, namun alangkah baiknya kita gunakan slot itu untuk bertafakur diri tentang apa yang kita kerjakan sepanjang tahun itu. Hanya sejenak, mungkin 2-4 jam cukup atau bahkan lebih. Kadang kita merasa berat meluangkan waktu sejenak kita untuk hal-hal seperti ini. Tapi kalau untuk bersenang-senang merayakan tahun baru mungkin 4 jam saja tidak cukup. Sah-sah saja merayakan tahun baru asalkan tidak berlebihan dan kita tetap meluangkan waktu untuk mentafakuri diri. Akhir tahun bukanlah waktu untuk berkelakar dan bersenang-senang semata, namun jauh dari itu. Akhir tahun kita bisa sejenak menonaktifkan segala keriuhan dunia ini untuk mentafakuri diri ini sembari menyusun rencana-rencana kebaikan apakah yang akan kita kejar di tahun yang baru esok harinya. Selepas itu kita saatnya kembali bergerak menyongsong tahun yang baru dengan semangat dan perencanaan yang lebih matang untuk menjadi orang-orang yang beruntung dengan semangat perbaikan kita. Terus Berderap!

Seoul, 31 Desember 2013 Jam 06.00 WKS.

Phisca Aditya Rosyady

dimuat di : www.sangpencerah.com/2015/12/tafakur-akhir-tahun-sejenak-untuk.html

sumber gambar : leviyamani.wordpress.com

Standard