Editorial, hikmah, islam

Dari Masjid, Kita Bangkit!

the issue

Sepenggal catatan Milad HAMMAS Masjid Sirothol Mustaqim Ansan  (the sister mosque of Jogokariyan in Korea) bersama Ustadz @SalimAFillah

“ Kami adalah bangsa yang dibangkitkan Allah untuk membebaskan manusia dari penghambaan dari kepada sesama makhluk menuju menyembah sang Khaliq, membebaskan manusia dari kedzaliman agama-agama menuju keadilan Islam, membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akherat “

Masjid adalah hardware paling utama peradaban Islam. Peradaban itu adalah hadhara atau sekumpulan kehadiran. Hadir, didalam wujud kita bisa memberikan kontribusi dan sumbangsih kepada ummat dan manusia disekitar kita. Memberikan satu nilai manfaat. Pada kehadiran-kehadiran itulah maka peradaban terbangun. Dalam historis sebelum kedatangan Islam, bangsa arab itu ada namun tak dianggap keberadaannya oleh bangsa sekitarnya karena saat itu belum memiliki peradaban. Begitu Rasulullah SAW hadir membangun peradaban Islam dengan sekumpulan kehadiran sahabat dengan kontribusi yang luar biasa semua berubah. Islam mengajarkan tentang kebersihan, kehidupan, keindahan dan tentang peradaban yang terinternalisasi didalam kehidupan masyarakatnya. Kaum muslimin saat itu memiliki kontribusi yang luar biasa dalam nilai-nilai kemanusiaan,  ketika kemudian mereka mengatakan :

“ Kami adalah bangsa yang dibangkitkan Allah untuk membebaskan manusia dari penghambaan dari kepada sesama makhluk menuju menyembah sang Khaliq, membebaskan manusia dari kedzaliman agama-agama menuju keadilan Islam, membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akherat “

Hadhoro, sekumpulan kehadiran yang kemudian disebut peradaban karena kita hadir untuk berkontribusi. Ada yang menemukan obat, meneliti tentang terbang seperti Ibnu Firnas, persamaan matematika seperti Al Khawarizmi, mempelajari ruang angkasa astronot seperti  dari Daulah Abasiyah, bidang kedokteran seperti  Ibnu Sini. Inilah peradaban karena ada kehadiran yang kontributif untuk ummat dan manusia. Maka masjid hanya bisa menjadi tempat bangkitnya peradaban kalau ada yang hadir ke masjid itu, kalau tidak tak lebih dari sekedar bangunan seperti gedung-gedung yang lainnya. Jika kita hadir dimasjid dengan segenap jiwa raga, akal pikiran, hati, dan ruhiyah hadir maka kebangkitan peradaban di masjid itu sebuah keniscayaan.

Takdhib atau adab memiliki makna ketertatan (manajerial), kata confusius, kalau mau memperbaiki sebuah masyarakat, perbaiki cara berbicara. Karen acara berbicara menunjukkan cara berpikir, cara berpikir menunjukkan cara bertindak dan cara bertindak itulah peradaban. Dulu bangsa Arab peradaban bahasanya dikuasai para penyair yang memiliki lisensia puitika kebebasaanya para penyair, bebas bersyair apa saja asalkan indah. Begitu Al Quran turun, dia mendisiplinkan berbicaranya orang Arab. Bicara harus benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat bagi yang mendengarnya dan berpahala bagi yang mengucapnya. Maka jadilah bangsa Arab ini berubah menjadi bangsa yang berperadaban dan berkeadaban. Karena ada takdhib dari Allah SWT melalui tarbiyah dari Rasulullah SWT.

Jadi ummat ini akan bangkit peradabannya dengan ada 2 perkara, kehadiran dan ketertataan. Ummat ini hadir kalau masing-masingnya punya kontribusi, melakukan sesuatu yang bernilai bagi agamanya.

Setiap Engkau adalah penjaga di satu titik pos perbatasannya Islam, maka jangan sampai tembus pertahanan itu gara-gara engkau”  (Sayidina Umar bin Khatab)

Kita semua harus siap hadir dalam dakwah membawa kontribusi kita sesuai potensi kita. Pun dalam membangkitkan masjid ataupun berdakwah, setiap potensi dalam diri kita menjadi penting. Kontribusi dalam dakwah bukan hanya sebagai seorang ustadz yang berceramah di atas mimbar. Namun pos-pos kontribusi yang lain yang mungkin dibalik layar, sesederhana jamaah yang bertugas memasak makanan di dapur masjid, fotografi, mendesain poster kajian, menjemput ustadz, ataupun yang membersihkan toilet dan tempat wudhu. Semua peran itu berperan penting dalam setiap langkah kemakmuran masjid menuju kebangkitan ummat.

Masjid harus ramah dan menjadi tempat yang nyaman untuk siapapun kalau ingin menjadi pusat kebangkitan ummat, bahkan adakalanya masjid harus bisa  mengakomodir hobi jama’ahnya seperti anak muda. Menyediakan aneka fasilitas, seperti sarana permainan, computer, wifi, dan menyediakan makanan agar banyak yang tertarik untuk menghabiskan waktunya di Masjid. Langkah selanjutnya kemudian melibatkan siapapun yang hadir di masjid dalam kegiatan kemasjidan. Disetiap waktu sholat kemudian diajak untuk berjamaah di Masjid, karena program utama masjid adalah mensholatkan orang hidup. Harus welcome kepada siapapun namun tetap diarahkan.

Dalam shiroh nabawiyah pun diriwayatkan pada saat Nabi Muhammad SAW membuka shuffah di masjid Nabawi (bagian sisi-sisi pinggirnya masih dibiarkan terbuka tanpa tembok penutup). Itulah tempat yang kemudian dikenal dengan shuffah yang akan menjadi tempat tinggal bagi kaum kurang mampu). Di masjid nabawilah shuffah itu kemudian ditinggali orang-orang yang mungkin sederhana namun tanpa dinyana mereka akan menjadi orang-orang yang berperan untuk ummat ini. Sebagai contoh Abu Hurairah seorang yatim saat itu yang dititipkan ke Rasulullah, lalu yang terjadi adalah dari Abu Hurairah-lah kita mendapatkan riwayat hadist terbanyak sejumlah 4000-an hadist. Ini disebabkan karena masjidnya terbuka untuk semuanya, termasuk masjid harus berdiri di atas semua golongan ummat, asalkan bukan yang sesat. Masjid harus terhindar dari permasalahan perbedaan dan perdebatan khilafiyah dan furu’iyah. Semangat membangun peradaban dari masjid harus lepas dari hal-hal demikian, masjid harus menjadi tempat untuk semua ummat Islam. Dimana bisa saling berkolaborasi dalam kebaikan, menyatukan setiap potensi kekuatan yang ada untuk membangun peradaban ummat bersama-sama dari masjid-masjid kita. Kalau kata Imam Masjid Sirothol Mustaqim Ansan, Ustadz @faisalkunhi  saat mengutip perkataan Syekh Muhammad Abduh “Kita bekerjasama atas permasalahan yang kita sepakati, mari bertoleransi atas permasalahan yang kita perselisihi”. Mari saatnya bergerak bersama mengerahkan semua potensi membangkitkan peradaban ummat dari masjid.

Berbagai program untuk meramaikan Masjid ada banyak cara, salah satunya adalah 1 orang harus mengajak 1 orang lain ke masji. Insya Allah kita bisa memikat 1 sasaran jika kita focus dan menggunakan cara yang menarik. At ta’rif qobla taklif (Pengenalan sebelum pembebanan), kita harus mengenalkan jama’ah di masjid dengan cara yang baik dan menarik. Kalau sudah tertarik dikenalkan, pelan-pelan memberi beban dengan memudahkan bukan mempersulit, memberi kabar gembira bukan dibuat lari. Kalau sudah mengajak orang lain ke masjid tugas selanjutnya adalah jangan sampai di masjid berkegiatan yang tidak produktif. Di masjid harus bisa sebagai tempat untuk belajar sehingga bisa menjadi pusat berkreasi dan berkarya. Seperti di Masjid Jogokariyan, sejarah mencatat kalau para pemuda masjid disana bisa berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional. Masjid sebagai lingkungan belajar, makanya dulu masjid disebut jami’ (mudzakkar), pasangan muannatsnya adalah jami’ah. Ini karena disekeliling masjid selalu ada bangunan tempat belajar, kemudian diterjemahkan dalam Bahasa modernnya sekarang disebut university. Seperti di Al Azhar di Kairo, Jami’atul Azhar atau universitas al azhar berdiri didekat masjid Al Azhar. Jadi semua sekolah dan universitas dalam dunia Islam pada masa lalu berasal dari Masjid. Bisa dimulai dari diadakan perpustakaan di Masjid hingga kursus bahasa untuk menarik minat para calon jamaa’ah.

Masjid juga harus menjadi kekuatan sosial untuk kebermanfaatan di lingkungannya. Bisa dimulai dari sumbangan nikah, arisan haji, arisan qurban, buka bersama dan lain sebagainya sebagai syiar masjid ke masyarakat luas. Masjid juga harus sebagai pusat social budaya, bahkan pusat kesenian. Dalam riwayatnya, Rasulillah beserta Aisyah menonton bilal bin rabbah dan kawan-kawannya sedang menari tarian Afrika di Masjid Nabawi. Dalam konteks sekarang, kita bisa mencoba mengenalkan budaya-budaya kesenian kita melalui masjid sekaligus dikolaborasikan dengan dakwah Islam, sehingga mungkin akan lebih menarik masyarakat luas untuk mengenal Islam dan tentunya memakmurkan masjid kita.

Selamat Milad ke-4 HAMMAS Himpunan Anak Muda Masjid Sirhothol Mustaqim Ansan, semoga Masjid Sirhothol Mustaqim Ansan bisa menjadi salah satu mercusuar dakwah Islam di Negeri Ginseng Korea.

Wallahu A’lam Bishawab
Phisca Aditya Rosyady

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s