notes from seoul, Uncategorized

Korea, “Doa” Yang Tak Disengaja [ Bagian 1 ]

” Mengenang satu tahun perantauan, ya tulisan ini Saya dedikasikan kepada seluruh keluarga tercinta, gurunda-gurunda saya, sahabat dan seluruh kawan-kawan yang selama ini turut mendoakan, menyemangati, dan ikut berjuang berproses bersama. Satu tahun perantauan sudah terlalui, perantauan terpanjang yang pernah Saya jalani, perantauan terjauh yang pernah Saya perjuangkan. dan perantauan terberat bagi Saya dalam merawat kerinduan panjang antara dua kota, Seoul dan Bantul. Selamat menyimak, semoga ada hikmah yang bisa dipetik.”
Terkadang kita latah melakukan suatu hal tanpa kita sengaja ataupun kita rencanakan, termasuk dalam berdoa. Ini kita lakukan mungkin hanya sekedar untuk memenuhi kewajaran saja, tanpa melalui proses berpikir yang panjang. Boleh jadi suatu ketika ada kawan yang mendoakan kita, dan kita meyakini itu doa yang baik, seketika itu pula kita mengaminkan tanpa sebenarnya ada pikiran bahwa doa itu akan menjadi kenyataan ataupun tidak. Dari situlah kemudian Saya menyebutnya sebagai “Doa Yang Tak Disengaja”, mungkin agak mirip diksi judulnya dengan salah satu film yang diangkat dari buku karya Asma Nadia. Ya, film “Syurga Yang Tak Dirindukan” yang mengangkat soal isu sensitif saat ini yakni Poligami. Kembali membahas tentang judul tulisan ini, berangkat dari “Doa Yang Tak Disengaja” inilah dengan Qodarullah (taqdir-Nya) kemudian mempertemukan Saya dengan skenario yang tak terduga sebelumnya yakni menuntut ilmu sampai ke Negeri Ginseng atau Korea Selatan.
Syukur yang tak terkira meskipun tak pernah membayangkan sama sekali untuk berkuliah di Korea, namun Tuhan memilihkan jalan ini. Pada saat itu Saya baru merenungi kalau setahun sebelumnya Saya pernah didoakan beberapa teman untuk bisa menginjakkan kaki di Korea, meskipun hanya doa iseng menurut saya. Saat Saya menuliskan catatan pengalaman ini, rasa-rasanya saja masih belum percaya semua bisa berjalan sedemikian hingga atas skenario indah dari-Nya. Sampai saat ini Saya sudah satu tahun menjalani perkuliahan di salah satu kampus negeri di Kota Seoul semenjak spring semester 2015 silam. Perkenalkan, Saya Phisca Aditya Rosyady atau akrab disapa Phisca, mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi master di Ilmu Komputer Seoul National University of Science and Technology. Berikut kisah Saya, selamat menjejaki.
Berawal dari Foto Narsis
Masih ingat betul, kala itu Saya menjadi finalis sebuah kompetisi bisnis plan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di tengah riuh gemuruh babak final, saat jam istirahat Saya jalan-jalan mengitari Kampus UI Depok dengan menggunakan kendaraan khasnya, yakni Bis Kuning atau Bikun. Sampai akhirnya sampai di salah satu bangunan cukup unik di kampus itu, yakni Perpustakaan. Di pojok perpustakaan terdapat cafe yang bertuliskan “Korea” yang sepertinya kurang afdhol jika tidak berfoto di depannya.

Foto di Depan Perpustakaan UI (2014) – Foto di Dongdaemun, Seoul (2015)
Saya pun berfoto dan beberapa hari kemudian Saya iseng memposting foto itu di media social facebook (Postingan foto yang dimaksud http://on.fb.me/1RoWpsN ) . Tak ayal, banyak yang mengira kalau Saya sedang berada di Korea melihat background fotonya. Saya pun membalas komentar-komentarnya itu seraya mengklarifikasi kalau foto itu bukan diambil di Korea namun di kawasan Perpustakaan UI. Dari situ ada beberapa teman yang kemudian mendoakan agar Saya bisa benar-benar menginjakkan kaki di Korea dan Saya pun latah meng-amin-kan doa-doa tersebut, meskipun sebenarnya tidak ada gambaran sama sekali apakah suatu saat doa itu bisa terkabul atau tidak. Namun dengan kehendak-Nya, alhamdulillah doa yang tak disengaja itu terkabul setahun setelahnya. Di penghujung awal Maret 2015 Saya sudah berada di Seoul, Korea, Saya meyakini salah satunya adalah berkat doa dari kawan-kawan Saya di facebook yang mengomentari foto Saya saat itu.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran…”
QS. Al-Baqarah [2] : 186
Melalui tulisan ini Saya mengucapkan beribu terimakasih, semoga Allah memberikan balasan atas ketulusan dan kebaikan doa-doa dari kawan-kawan, Jazakumullah khoiron katsiro. Semoga kita bisa menjadi yakin bahwa selirih apapun doa yang kita panjatkan, Allah akan mendengar sayup-sayup doa kita. Mewujudkan apa yang ingin kita ikhtiarkan, entah kapan dan melalui skenario bagaimana Allah mengabulkannya. Dan akhirnya saat ini Saya sudah setahun lebih berada di Seoul untuk menempuh studi master….
[to be continued]
Seoul, Maret 2015 – Maret 2016
Mengenang Satu Tahun Perantauan.
Teruntuk kedua orang tua tercinta Bapak Sutapa & Mama Siti Mariyah
seluruh keluarga, dan sobat kerabat yang kurindui dari sini.
Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s